Prestasi, Ruang Tumbuh, dan Peran Sekolah dalam Menguatkan Potensi Siswa

Prestasi peserta didik kerap tumbuh dari ruang-ruang yang tidak selalu dirancang secara formal. Di luar kurikulum dan program sekolah, terdapat proses panjang pengenalan diri, keberanian mengambil peluang, serta dukungan lingkungan yang memungkinkan potensi berkembang secara utuh. Gambaran inilah yang tercermin dari capaian Fakhri Daynies Abi Maulana, siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kota Cirebon, yang berhasil meraih Juara Pertama Duta Muda Jawa Barat Tahun 2026.

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari pihak sekolah melalui penyerahan penghargaan secara simbolis oleh H. Maman Dermawan, S.Pd., M.Pd., Kepala SMAN 1 Kota Cirebon. Meski penyerahan resmi akan dilaksanakan pada upacara bendera setelah kegiatan pembelajaran kembali berjalan normal, Senin, 22 Desember 2025, apresiasi awal ini menjadi penanda pentingnya kehadiran sekolah dalam mengakui prestasi peserta didik.

Dalam penjelasannya, kepala sekolah mengemukakan bahwa dinamika prestasi siswa saat ini tidak selalu berada dalam jangkauan langsung institusi pendidikan. Berbagai ajang pengembangan diri—baik di bidang seni, olahraga, maupun nonakademik—kerap diselenggarakan di luar struktur vertikal pendidikan. Dalam kondisi tersebut, sekolah sering kali baru memperoleh informasi setelah siswa menyampaikan secara langsung.

Kondisi ini tidak dipandang sebagai keterbatasan semata, melainkan sebagai bagian dari perubahan lanskap pendidikan. Sekolah tetap memosisikan diri sebagai ruang yang memberi dukungan, selama kegiatan yang diikuti siswa bersifat positif dan mendapat persetujuan orang tua. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran peran sekolah, dari sekadar pelaksana program menjadi mitra tumbuh bagi potensi peserta didik.

Peran keluarga dalam proses ini tidak dapat dipisahkan. Dukungan orang tua Fakhri menunjukkan bahwa prestasi yang berkelanjutan lahir dari kolaborasi antara rumah dan sekolah. Ketika potensi anak dikenali sejak dini dan difasilitasi secara konsisten, capaian bukan lagi tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan kepercayaan diri.

Fakhri sendiri memaknai prestasi yang diraih sebagai hasil dari dukungan banyak pihak. Ungkapan terima kasih yang disampaikannya kepada orang tua dan pihak sekolah mencerminkan sikap rendah hati sekaligus kesadaran bahwa pencapaian bukanlah perjalanan individual semata.

Kisah ini memberikan pembelajaran penting bagi dunia pendidikan: bahwa tugas sekolah tidak berhenti pada pengelolaan pembelajaran di kelas, tetapi juga pada kemampuan menciptakan iklim yang memberi ruang bagi potensi siswa untuk tumbuh di berbagai medan. Prestasi Fakhri menjadi contoh bahwa ketika sekolah, keluarga, dan peserta didik berjalan dalam satu irama, pendidikan menemukan fungsinya yang paling esensial—menyiapkan generasi yang berdaya, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. (Ukon Jamiat)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edufair SMPN 3 Cileunyi: Bantu Siswa Kelas 9 Tentukan Pilihan Masa Depan

Penutupan P5 di SMP Negeri 3 Cileunyi: Siswa Unjuk Karya dalam Kegiatan Kewirausahaan "My Handmade, My Money"

SMPN 3 Cileunyi Gelar Kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional 2025 : Wujud Nyata Kepedulian terhadap Lingkungan